Kelola Sampah Kawasan, Kurangi beban TPA

Tragedi Leuwigajah dan tumpukan sampah TPA

Hari peduli sampah nasional (HPNS) yang diperingati setiap 21 Februari, merupakah sebuah peringatan atas terjadinya tragedi ledakan dan longsornya tumpukan sampah di TPA (tempat pembuangan akhir) Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat.

Sebuah letusan dini hari terjadi di TPA Leuwigajah, jutaan kubik sampah longsor, sehingga menimbun rumah-rumah warga sekitar, mengubur lebih dari 8,5 hektare lahan perkebunan dan pertanian, serta menewaskan sekurangnya 147 korban jiwa tertimbun sampah.

Peristiwa longsor TPA Leuwigajah merupakan tragedi longsoran sampah terbesar kedua di dunia, setelah longsoran sampah di TPA Payatas, Quezon City, Filipina yang terjadi pada 10 Juli 2000, dan menewaskan 200 korban jiwa.

Kejadian di TPA Leuwigajah, longsor sampah pernah terjadi juga di TPA Suwung Denpasar, Bali, dan TPA Bantargebang, Bekasi, Jawa barat.

Dr. Edi Utomo, Ahli Geofisika eksplorasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dalam wawancaranya dengan tirto.id menjabarkan penyebab terjadinya Longsor sampah, kemungkinan terbesar dikarenakan material sampah organik dan anorganik yang kopak. Sehingga ketika hujan deras kestabilan bukit sampah pun hilang menyebabkan terjadi longsor. Selain itu, ledakan terjadi akibat adanya gas metana (CH4) dalam jumlah yang besar (lebih dari 12% dari udara sekitar). Gas tersebut terperangkap dalam timbunan sampah sehingga suatu saat tertentu dapat meledak.

Selain resiko longsor sampah, tumpukan sampah di TPA juga memiliki banyak resiko lain terutama terkait pencemaran lingkungan sekitar, seperti yang terjadi di TPA Bakung, Teluk Betung timur, Bandar Lampung yang mencemari sumur-sumur warga sehingga airnya tidak bisa dikonsumsi lagi, juga peristiwa jebolnya turap TPA Cipeucang, Tangerang Selatan sehingga sampah longsor ke Sungai Cisadane, dan masih banyak lagi berita mengerikan lainnya terkait TPA.

Bedasarkan penjabaran diatas sangat dibutuhkan kesadaran masyarakat, pemerintah, baik secara individu maupun organisasi untuk saling berkontribusi, bekerja sama mengurangi tumpukan sampah di TPA. Hal ini merupakan alarm dari alam, seperti menginsyaratkan jika tidak diperbaiki sekarang maka masa depan anak cucu kitalah yang menjadi taruhannya.

Pemilahan Sampah dan Tempat Akhir Sampah

Keberadaan sampah tidak akan berhenti bertambah selama kita masih mengkonsumsi. Sehingga hal paling penting dalam pengelolaan sampah adalah dimana sampah ini akan berakhir? apakah sampah sekedar dipindah tempatkan saja, dari rumah ke tempat pembuangan akhir? atau sampah dikelola sampai kemungkinan pengelolaan terakhir sebisa mungkin yang bisa kita lakukan.

Bersyukur pemerintah pusat maupun daerah sejak awal tahun 2020 sangat menggalakkan gerakan belanja tanpa kantong plastik, meskipun masih sulit untuk diterapkan secara massal di Indonesia secara keseluruhan, dengan adanya kebijakan belanja tanpa kantong plastik merupakan salah satu langkah awal untuk mengurangi konsumsi sampah plastik.

Pemilahan sampah dari rumah sangat beperan penting dalam pengurangan tumpukan sampah di TPA. Setidaknya dibutuhkan 2 kategori yang paling mudah, organik dan anorganik.

Pengolahan sampah organik banyak digaungkan di sosial media, yaitu dengan mengompos di rumah. ada beberapa pilihan media kompos yang biasa digunakan di rumah, Seperti: Takakura, komposter pot (gerabah), komposter drum, worm bin, biopori, dan masih banyak lagi. Secara pribadi saya mengompos sendiri sejak dua tahun lalu.

Meskipun banyak digaungkan (dipromosikan) tentang mengkompos sampah organik di rumah, hal ini masih sangat jarang dilakukan karena masih mengandalkan kesadaran individu, dan belum ada kebijakan tegas dari pemerintah.

Pengolahan sampah anorganik terlebih jadi permasalahan. karena sampah anorganik sangat melekat di kehidupan konsumsi sehari-hari, seperti bungkus makanan, botol minuman, popok, bahkan sacet saus tomat yang sering dianggap kecil. Karena, sampah anorganik bisa membutuhkan 100 tahun untuk terurai kembali.

Solusi utama sampah anorganik adalah tidak menggunakan atau mengurangi (reduce) konsumsi apapun yang menghasilkan sampah . Sampah anorgak juga harus dimaksimalkan alih fungsinya (Reuse& recycle) sehingga sampah anorganik tidak banyak berakhir di TPA.

Membakar sampah dengan tujuan agar sampah tidak berakhir menumpuk di TPA justru membuat permasalahan baru, karena asap dari pembakaran sampah mengandung dua zat bahaya yang memicu penyakit pernafasan yaitu karbon monoksida dan formaldehida.

Christine Wiedinmyer, seorang peneliti dari National Center for Atmosperic Research, menyampaikan sebanyak 29 persen asap hasil pembakaran mengandung partikel logam berukuran kecil yang dapat menembus langsung ke dalam paru-paru. Selain itu, 10 persen kandungan polutan dari sampah mengandung merkuri dan 40 persen lainnya mengandung hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH).

Bisa disimpulkan membakar sampah bukanlah solusi yang tepat untuk pengelolaan sampah, karena membakar adalah solusi yang akan menyebakan permasalahan baru di kemudian hari.

Semua kegiatan diatas tidak akan menghasilkan sebuah efektivitas yang signifikan jika masih dikerjakan secara individu, dibutuhkan sebuah gerakan yang bisa mengkoordinasi, mengedukasi, dan mengevaluasi sikap masyarakat yang lebih luar demi menjadikan sampah yang dihasilkan tidak berakhir begitu saja di TPA terdekat.

Note

Zero Waste Cities oleh YPBB

Berdasarkan problematika tumpukan sampah di TPA, dan belum adanya gerakan pengelolaan sampah yang masif dan terorganisis dari pemerintah terkait pemilahan sampah, YPBB mencetuskan sebuah program Zero Waste Cities yang telah dikembangkan sejak 2017.

YPBB ( Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi) sendiri merupakan sebuah organisasi non-profit dan non-pemerintah yang dirintis sejak tahun 1993. Selama lebih dari 20 tahun, YPBB membantu masyarakat dengan program-program edukasi terutama terkait pelestarian alam.

Program Zero Waste Cities merupakan sebuah program pengembangan model pengelolaan sampah berwawasan lingkungan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi di kawasan pemukiman.

Zero waste Cities menarget sebuah kawasan dalam tingkat kota/kabupaten, yang kemudian mengedukasi masyarakat sekitar dengan harapan penerapan pengelolaan sampah dalam skala lebih luas sehingga bisa membantu pengurangan tumpukan sampah di TPA terdekat.

Program ini menggandeng pemerintah setempat untuk membantu terlaksananya zero waste cities dengan kebijakan-kebijakan yang lebih mudah diterima masyarakat sekitar. Selama kurang lebih lima tahun program zero waste cities yang dikembangkan di Bandung (dikenal kang pisman) berhasil mengurangi tumpukan sampah ke TPA sebanyak 23.13%, di Cimahi (dikenal barengras) berhasil mengurangi 38% sampah ke TPA terhitung dari awal program ini dilaksanakan.

Pencapaian ZWC kota bandung. foto: http://ypbbblog.blogspot.com/
Pencapaian ZWC di Cimahi. Foto : http://ypbbblog.blogspot.com/

Dari data pengurangan sampah yang terpapar diatas, Program Zero Waste Cities terbukti efektif dalam pengurangan beban di TPA. Alangkah baiknya lebih banyak lagi program Zero Waste cities ini di aplikasikan di kota-kota lain, dengan menggandeng komunitas lokal dan bekerja sama dengan pemerintah setempat atas inisiasi YPBB, karena program ini sangat berpotensi untuk menjangkau skala yang lebih besar.

Proses Pemilahan sampah dengan Zero Waste Cities

Dalam pelaksanaanya Program Zero Waste Cities memiliki 2 petugas utama yang langsung terjun ke masyarakat; petugas edukasi, dan petugas monitoring.

Petugas edukasi bertugas untuk mengenalkan kepada warga, baik dari rumah ke rumah maupun program seperti pelatihan dimana bertujuan agar masyarakat kawasan terpilih mengenal program, dan cara pemilahan jenis sampah demi mempermudah kelancaran program.

Memberikan poster sebagai media edukasi kepada warga, lalu mencatat warga yang telah diedukasi di aplikasi epicollect, dan menempelkan stiker tanda rumah agar bisa di monitoring pemilahannya.

Petugas monitoring mendampingi pengumpul sampah kawasan. Pemilik sampah (masyarakat setempat) memberikan sampah konsumsi rumah tangganya dengan setidaknya terpilah 2 kategori, organik dan anorganik.

pengumpulan sampah terpilah. foto : press realase YPBB

Pengumpul sampah mengoleksi sampah keluarga dan memasukkannya ke wadah yang berbeda juga. Petugas monitoring mencatat ketepatan pemilahan warga melalui aplikasi epicollect.

Petugas monitoring melakukan penimbangan pada sampah terpilah sesuai dengan jenisnya. Sampah daur ulang, Sampah organik dan Sampah residu.

Sampah daur ulang diserahkan pada pengumpul sampah, sampah residu diangkut ke TPS terdekat, dan sampah organik diangkut oleh pemerintah jika kawasan sudah menfasilitasi pengangkutan organik.

Jika kawasan belum mendukung pengelolaan sampah organik maka kawasan dari RW/WT membuat sarana pengelolaan organik. Seperti lubang kompos atau bata terawang.

Lubang kompos RW 7 Cihaurgeulis Bandung. Foto: Press realase YPBB

Dengan pengelolaan sampah kawasan ini, terbukti efektif mengurangi sampah yang tertumpuk di TPA, sehingga membantu mengurangi resiko-resiko yang terjadi di TPA. hal ini tidaklah bisa lepas dari petugas pengumpul sampah yang bisa diajak bekerja sama dan perangkat desa serta pemerintah yang memberikan kemudahan dalam menjalani program ini.

Terimakasih atas dedikasinya, pak.

Ancaman Tak Peduli Sampah

Ancaman Tak Peduli Sampah

Setelah menjabarkan bagaimana problematika sampah di tempat pembuangan akhir, dan langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penumpukan sampah di TPA, beberapa orang mungkin masih merasa terlalu ribet atau terlalu menyusahkan untuk menjalani berbagai langkah di atas.

Sebagian orang memilih untuk membuang sampahnya secara rutin dengan membayar pengumpul sampah, tanpa ada pertanyaan kemana sampahnya berakhir? apakah sampahnya di kelola lagi atau hanya menumpuk dari sekian banyak sampah yang berakhir di TPA.

Berikut saya beri gambaran bahaya sikap tidak perduli kepada sampah yang bisa mengancam kehidupan kita di masa depan.

  1. Indonesia perodusen sampah terbesar ke dua setelah cina.
  2. 4 dari 20 sungai paling terpolusi di dunia.
  3. Mengancam biota laut dan garam
  4. mikroplastik yang bisa masuk ke mahluk hidup, tumbuhan, hewan sehingga masuk ke tubuh.

Masih banyak lagi ancaman bahaya tidak peduli terhadap sampah selain empat point di atas. Mungkin saat ini tidak kita rasakan karena kita tidak tinggal di sekitar TPA, sehingga kita terlalu acuh.

Padahal tumpukan sampah, terutama sampah yang tidak dipilah merupakan bom waktu yang saat ini sedang merusak ekosistem kita. Ia bisa merusak air tanah seperti yang terjadi di lampung, merusak air laut dan seluruh biota laut yang ada di dalamnya. Bahkan beberapa waktu lalu sempat viral adanya kandungan mikroplastik di plasenta ibu hamil.

Mari kita peringati Hari Peduli Sampah Nasional dengan memulai langkah kecil dari sampah rumah kita masing-masing, dan bergerak dengan sadar dalam mengkonsumsi segala sesuatu terutama yang meninggalkan jejak sampah setelahnya.

Selamat hari peduli sampah nasional.. 21 Februari 2021

Sumber referensi artikel : 

YPBB Blog

Tirto.id

Kompas.tv

Detik.com

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *