Pengalaman Menorrhagia hingga Kuretase

Pengalaman Menorrhagia hingga Kuretase

Cerita penyakit di 2020 ternyata tidak selesai di kasus tiroid saja. meskipun hormon tiroidku dinyatakan normal dan tidak memerlukan untuk perawatan lebih lanjut, ternyata sebulan kemudian ‘Menorrhagia’ menghampiriku di akhir bulan ramadhan tepatnya 22 Mei 2020. (hingga hari ini darahnya belum berhenti 20 juli 2020)

Awalnya aku haid dengan flek ringan sekitar hampir 14 hari, kemudian keluar darah di hari ke 15, dan belum ada tanda-tanda untuk berhenti. pada 9 juni tepatnya hari ke 20 haidku, aku periksa ke dokter obgyn di SADEWA yogya.

Dokternya tidak secara gamblang mengatakan nama dari penyakitku, hanya memberikan obat, dan menasehati ku dalam banyak hal.

Hari itu dokter memberikan syarat yang sangat tegas untukku jika ingin tubuhku sehat seperti sedia kala, yaitu menurunkan sekitar 20kg berat badan, syukur-syukur sampai tahap berat badan normal.

Aku dianjurkan untuk diet karbo, semua jenis karbo, glukosa, unggas, seafood, bahkan air minumkupun harus air hangat tanpa rasa. dianjurkan 30 menit olahraga setiap hari yang menghasilkan keringat, menghilangkan stres, dengan target sebulan menurunkan 4 kg artinya dalam satu minggu harus turun 1kg.

Aku diberikan obat untuk menghentikan pendarahan untuk konsumsi 10 hari. Dimana umumnya orang lain dengan gejala penyakit yang sama hanya membutuhkan 5 hari konsumsi obat tersebut dan sembuh, namun meskipun diberikan resep double dengan sepuluh hari meminum obat ternyata darahku tidak berhenti.

Aku fikir ini adalah reaksi normal setelah meminum obat, yaitu pendarahan berat setelah sepuluh hari minum obat yang kemudian akan berhenti, jadi aku menunggu darahnya berhenti. Sayangnya lagi-lagi tidak ada tanda untuk berhenti pendarahanku, malah jumlah darahnya terus menambah.

Tanggal 9 juli tepatnya hampir dua bulan aku keluar darah,aku kontrol lagi ke dokter. Dokternya kecewa karena aku tidak buru-buru ke kontrol setelah konsumsi obat 10 hari kemarin, karena seharusnya obat itu menghentikan bukan menambah deras.

kata dokternya satu-satunya cara untuk menghentikan pendarahan ini adalah kuretase. dengan tujuan mengikis dinding rahim sebagai upaya mengurangi darah, dan untuk mengecek kandungan sel-sel dari rahimku apakah ada mioma, kista, atau semacamnya.

Aku dijadwalkan kuretase pada tanggal 12 juli 2020.

Pengalaman Menorrhagia hingga Kuretase

Proses Kuretase

aku diminta puasa dari jam 2 malam, dan dijadwalkan operasi jam 9 pagi keesokan harinya.

Selama prosedur kuretase berlangsung aku dibius total sehingga tidak sadar dan tidak merasakan apapun sampai proses Kuret selesai.

Satu jam kemudian aku tersadar,saat aku terbangun pertama aku masih dibawah mengaruh bius, merasa pusing dan sedikit mual tapi sama sekali tidak menggangguku (bukan sesuatu yang menakutkan). aku dibawa kembali ke ruang rawat.

jam 5 sore,aku sudah tersadar,sudah bisa berkomunikasi dengan baik dan yang mengejutkan aku sudah bisa pipis dengan normal, sehingga akhirnya aku dibolehkan pulang dari rumah sakit pada malam harinya.

Aku diberi resep obat selama 3 hari dengan catatan diet karbo dan protein, dan jika terjadi keluar cairan bau dan darah berlebih boleh ke rumah sakit sebelum jadwal kontrol selanjutnya.

Saat aku menulis ini, Sekarang hari ke 8 aku kuret, awalnya darahnya sudah berhenti, tapi ada flek keluar lagi tapi masih dalam tahap nomal. Aku masih menunggu hasil lab sambil berdo’a semoga tidak ada penyakit penyakit apapun lagi ditubuhku ini.

Bersambung Part II

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *