Konsumsi Zat besi untuk Indonesia lebih sehat

Konsumsi zat besi untuk indonesi lebih sehat

Korelasi Zat besi dan Anemia

Zat besi merupakan golongan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh guna untuk pembentukan hemoglobin dalam sel darah merah. Hemoglobin tersebut kemudian bertugas untuk mengikat oksigen dan mengirimkannya ke seluruh tubuh.

Fungsi Zat besi dalam tubuh adalah mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan seluruh tubuh, dan mengangkut elektron dalam proses pembentukan energi dalam sel.

Saat tubuh dalam kondisi kadar hemoglobin lebih rendah dari kadar normal, yang menunjukkan kurangnya sel darah merah yang bersirkulasi kondisi ini disebut sebagai anemia defisiensi besi, yang diakibatkan oleh kurangnya konsumsi asupan zat besi.

Penderita anemia defisiensi besi biasanya mengalami sejumlah gejala, seperti letih, pusing, sakit kepala, sesak nafas, dan denyut jantung meningkat.

Di Indonesia sendiri prelevansi anemia defisiensi besi didominasi oleh bayi baik bayi laki-laki maupun bayi perempuan dan ibu hamil. Prelevansi pada bayi mencapai 29.7% untuk bayi laki-laki 26.5% untuk bayi perempuan, sedangkan ibu hamil mencapai 37.1%.

Anemia Defisiensi besi sendiri merupakan penyebab utama disabilitas pada anak anak dan remaja. Anemia defisiensi besi juga menyebabkan penurunan kinerja, gangguan kognitif, dan kelelahan untuk jangka panjang.

Dikutip dari Anemia Convention menyatakan bahwa baik defisiensi zat besi, maupun anemia defisiensi besi merupakan tantangan besar di Asia. Efek jangka panjang dari kekurangan zat besi dengan atau tanpa anemia pada anak-anak dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, kekebalan tubuh, serta perkembangan otak dimana fungsi kognitif menurun sesuai dengan drajat anemia, ujar Dr. Murti Andriastuti Sp,A(K), sebagai ketua satuan tugas anemia defisiensi besi dari IDAI.

Sebuah penelitian yang dilakukan Diana Halim, dalam sebuah karya tulis ilmiah yang mengkaji hubungan asupan zat besi heme dan non heme, protein, vitamin C dengan kadar HB remaja putri di Padang, dengan pengambilan sample secara acak (simple random sampling) menghasilkan bahwa prelevansi anemia pada remaja putri 69,8% dengan rata-rata kadar Hb 10.36 g/dl, rata-rata asupan zat besi total 15.00 mg, rata-rata asupan zat besi heme 2.21 mg, rata-rata asupan besi non heme 12.26 mg, rata-rata asupan protesin 80.00 gr, dan rata-rata asupan vit C 163 mg.

Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asupan zat besi heme, dan non heme, asupan protein, asupan vit C dengan kadar Hemoglobin.

Diana halim (2017)

Bisa disimpulkan bahwa faktor penyebab tingginya prelevansi anemia defisiensi besi adalah; kurangnya asupan besi sehingga menyebabkan anemia, rendahnya asupan vitamin C sebagai zat pendukung penyerapan asupan besi, mengkonsumsi sumber tannin, polifenol, zinc, dan kalsium berlebih sehingga menghambat penyerapan zat besi pada tubuh.

Proses penyerapan Zat Besi

Zat besi heme merupakan zat yang bersumber dari hewani yang penyerapannya di dalam tubuh lebih mudah. Sedangkan zat besi non heme bersumber dari nabati yang mana proses penyerapannya harus melalui beberapa tahap perubahan di dalam tubuh sehingga membutuhkan asupan pendukung lain seperti vitamin C.

Sumber zat besi Heme bisa didapatkan dari daging ayam, daging sapi, hati ayam, ikan salmon dan lainnya. Sedangkan sumber zat besi non heme bisa didapatkan dari bayam, wortel, kangkung, asparagus, jamur, dan lainnya.

sumber zat besi

Adapun zat yang meningkatkan penyerapan besi adalah asam askrobat (vitamin C), asam sitrat, dan komponen makanan lain. Sedangkan zat penghambatnya adalah ; fitat, tanin, polifenol, dan komponen makanan lainnya.

Makanan pendukung penyerapan zat besi

Adapun sumber asam askrobat yang mendukung penyerapan zat besi adalah makanan-makanan yang mengandung vitamin C, seperti Jeruk, tomat, mangga, brokoli dan paprika.

Sedangkan sumber makanan yang dapat menghambat penyerapan zat besi adalah seperti teh, kopi dan susu. sehingga dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi zat besi dan makanan tersebut dalam satu waktu.

Cegah Anemia dari 1000 hari pertama kehidupan

Upaya pencegahan anemia dalam keluarga bisa dimulai dengan memenuhi Asupan gizi seimbang, terutama memperhatikan asupan zat besi dan vitamin C, serta menjalankan pola hidup sehat, dan tidak menjalankan diet makanan tertentu tanpa pantauan ahli gizi.

upaya pencegahan anemia

WHO secara khusus mencetuskan Continuum of care & life cycle yang bertujuan untuk fokus pada kesehatan berkesinambungan pada ibu hamil, bayi, dan anak demi mewujudkan keluarga yang sehat. karena kelompok ibu hamil, bayi dan anak sangat rentan untuk menderita kekurangan nutrisi terutama zat besi.

Danone Indonesia melalui PT Nutricia Indonesia Sejahtera dan PT sarihudasa generasi mahardhika secara khusus mengambil peranan penting dalam mengedukasi keluarga Indonesia sehat dan mendukung pemenuhan gizi pada tahap awal kehidupan, dengan program utama 1000 hari pertama kehidupan.

1000 hari pertama kehidupan

1000 hari pertama kehidupan – dimulai dari terbentuknya janin dalam kandungan sehingga anak berusia 2 tahun. Pada periode ini terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat, yang mendukung seluruh proses pertumbuhan anak dengan sempurna. Periode ini penting karena kurang gizi pada periode emas ini tidak bisa diperbaiki di masa kehidupan selanjutnya.

Pemberian nutrisi yang baik pada masa 1000 hari pertama kehidupan bisa menyelamatkan jutaan nyawa, dan mengurangi resiko malnutrisi, seperti kekurangan gizi, pendek, obesitas, dan kondisi medis lainnya.

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi 1000 hari pertama kehidupan, Danone Indonesia memproduksi berbagai produk nutrisi yang bisa membantu memenuhi kebutuhan perkembangan anak bahkan sejak dari kandungan, seperti: Lactamil, Nutrilo Royal, Bebelac, SGM Eksplor, dan banyak produk lainnya termasuk air minum berkualitas Aqua.

Selain menyediakan produk berkualitas Danone Indonesia juga melakukan beberapa kegiatan sosial guna mengenalkan pada masyarakat pentingnya asupan bernutrisi. berikut program andalan Danone indonesia dalam mendukung terwujudnya keluarga indonesia yang sehat;

Program isi piringku program bertujuan untuk konsumsi gizi seimbang dan gaya hidup sehat untuk anak 4-6 tahun.

Program Gesid (generasi sehat indonesia) program yang ditujukan untuk siswa SMP dan SMA, dengan maksud untuk membantu mengatasi berbagai permasalahan yang dialami oleh kalangan remaja baik dari segi gizi maupun sosial. 

Program AMIR, gerakan ayo minum air berupa program kolaboratif yang bertujuan untuk meningkatkan kebiasaan minum air 7-8 gelas perhari.

Warung anak sehat, program yang membudayakan kantin sekolah untuk dikelola untuk menyediakan makanan ringan dan minuman bergizi untuk siswa siswi.

dan masih banyak lagi program dari Danone Indonesia yang berkomitmen untuk mendukung kecukupan nutrisi bagi keluarga di indonesia.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *