Hati Hati Bisnis monyet ‘monkey business’

Dulu sekitar sepuluh tahun lalu sekitar tahun 2009 ada sebuah bunga yang dihargai begitu mahal, hingga menumbus jutaan rupiah. Dengar-dengar bunga itu sulit untuk tumbuh, hingga ia dihargai perhelai daunnya. Banyak yang memburu bunga itu dan rela merogoh kocek ratusan ribu, bahkan seorang tante yang aku kenal rela mengelap helai daunnya dengan campuran air dan susu, bahkan kadang dengan madu. Sehingga tanpa disadari bunga gelombang cinta itu tersedia di setiap taman depan rumah dan tidak menjadi langka lagi, tidak ada yang membeli dengan harga mahal lagi, dan tidak ada yang membicarakannya lagi sampai ia terlupa begitu saja.

Dulu sekitar lima tahun lalu, sekitar 2015. Semua orang mencari sebuah batu yang sebenarnya selalu tersedia di pasar, bahkan aku sering melihat penjualannya selalu sepi dari aku kecil dahulu. batu itu sejatinya hanya dinikmati oleh kalangan khusus saja, sehingga tidak pernah menjadi pusat perhatian banyak orang. pada tahun 2015 tiba-tiba semua orang mencari batu itu, setiap jenis, bentuk dan warna sangat mempengaruhi harganya. tak ada angin tak ada hujan, tiba tiba semua televisi memberitakan harga harga yang fantastis untuk sebuah batu, bahkan ada yang dalam hitungan langka sehingga semua orang rela membeli dengan harga tertinggi. Banyak group group baru terbentuk, mayoritas laki-laki dan sering mengadakan pertemuan di tempat umum. entah bagaimana tiba-tiba demam batu giok/batu akik itu menghilang, dan tak ada seorangpun yang membicarakannya lagi. entah batu itu sekarang disimpan dimana, mungkin di lemari para pembelinya.

Masih segar dalam ingatan kita, bunga janda bolong begitu gempar di tahun 2020 ini. bahkan semua tanaman yang begitu umum di desa-desa menjadi begitu mahal baik penjualan lokal maupun internasional. paling mahal aku dengar ada yang membeli bunga janda bolong ini 40jt rupiah. demam tanaman hias ini masih terasa hingga saat ini, meskipun sudah tidak seramai awal tahun lalu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan pelonjakan harga benda-benda ini secara tiba-tiba? sebenarnya siapa yang memboomingkan ini semua? siapakah yang mengambil untung paling banyak pada saat saat seperti ini?

Kenaikan harga dan penurunan harga sebuah barang sangat berhubungan dengan ketersediaan barang tersebut, dan jumlah kebutuhan pasar (suply&demand). Ketika kebutuhan pasar melonjak tidak diiringi dengan banyaknya ketersediaan barang, maka disitulah terjadinya kenaikan harga sebuah barang.

Lalu bagaimana tiba-tiba barang-barang tersebut diatas dicari banyak orang?, untuk meningkatkan kebutuhan pasar, yang paling berpengaruh kuat adalah media, pembicaraan orang-orang, dan penyampaian info yang berlebih sehingga banyak yang merasa ingin ikut berpartisipasi dalam keramaian tersebut. dan karena hal inilah semakin melonjaknya permintaan barang tersebut, sehingga terjadinya peningkatan demand, yang diiringi peningkatan harga.

kenaikan harga sebenarnya sesuatu yang wajar, sampai kita mengenal konsep Bisnis monyet. Bisnis monyet adalah bagian dari bisnis yang kotor, dimana adanya kelompok/personal yang mampermainkan harga jual, menjadikan suatu barang bahkan meski ia tidak bernilai pada awalnya, dirubah menjadi semahal-mahalnya, selangka-langkanya dan menjadikan semua orang awam berlomba-lomba untuk melakukan hal yang sama, sehingga pada puncak titik jenuh sekelompok/personal tersebut menghilang setelah mengambil keuntungan sebanyak banyaknya.

gambaran cerita :

Seorang juragan datang kesebuah desa, di desa tersebut terdapat banyak monyet. sehingga monyet di desa itu tidaklah berharga. Suatu hari juragan tersebut berucap ‘saya ingin membeli monyet di desa ini dengan harga 50rb perekor’, sehingga menjadikan seluruh masyarakat desa tersebut berburu hewan yang dulunya tidak berharga.

setelah monyet di desa itu kian menipis, juragan tersebut berucap ‘saya ingin membeli monyet yang sudah mulai langka ini dengan harga 100rb perekor’, kemudian terjadilah sebuah proses peningkatan harga, dimana kalangan masyarakat mulai saling menjual belikan monyet, bahkan tak jarang para petani mulai menjual sawahnya demi membeli monyet untuk menjual kembali ke juragan tersebut. kejadian itu terus berlanjut sampai monyet di desa itu sudah tidak ada lagi.

juragan itu kemudian berkata ‘siapapun yang maish memiliki monyet dan ingin menjualnya, aku akan membeli dengan harga 1jt rupiah’. monyet didesa sudah habis, sedangkan harga yang ditawarkan begitu tinggi sehingga semua orang di desa itu rela membayar berapapun untuk monyet yang masih ada. di tempat lain, ada seseorang yang menjual monyet sehingga semua masyarakat desa tersebut berbondong bondong membeli monyet tersebut meskipun harganya jauh lebih mahal.

Para masyarakat tidak lagi menimbang kegunaan barang/manfaat membeli monyet, tapi dalam benak mereka tertanam berapapun mereka membeli monyet ini, mereka akan menjualnya ke juragan sehingga mereka mendapatkan untung. atau mereka terbesit untuk merawat/memiliki monyet tersebut secara pribadi dengan anggapan bahwa memiliki monyet di rumah adalah sebuah lambang kesuksesan, karena menyimpan benda berharga.

Sehingga pada satu titik jenuh, monyet itu tidak bisa dijual belikan lagi, karena sang juragan tidak pernah terlihat lagi. Monyet itu kembali menjadi benda yang lumrah di sekitar desa itu dan tidaklah berguna lagi.

Dari sinilah gambaran bisnis monyet. sang juragan mempermainkan harga jual dan beli sehingga mengambil untung sebanyak-banyaknya, kemudian lari menghilang menikmati keuntungan sendiri. sedangkan monyet yang ia permainkan sebelumnya kembali lagi ke masyarakat sekitar tanpa nilai.

Beberapa hal yang bisa diambil dari cerita bisnis monyet ini adalah, tidak perlu terlalu takut untuk tidak mengikuti uforia perdagangan, terutama untuk hal-hal yang belum pasti kegunaan dan manfaatnya. jadi pastikan untuk membeli sesuatu sesuai dengan harga dan value dari benda tersebut.

Terimakasih sudah membaca sampai habis.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *